Gugatan Pidana Diajukan UEFA ke Pengadilan Swiss untuk Singkirkan Infantino

Gugatan Pidana Diajukan UEFA ke Pengadilan Swiss untuk Singkirkan Infantino
UEFA mengajukan gugatan pidana ke Pengadilan Swiss terkait dugaan mismanajemen proyek FFE oleh Presiden FIFA Gianni Infantino.

SUARARAKYAT.CO — Langkah UEFA ini sekaligus menjawab keraguan publik setelah sebelumnya mereka mencabut rencana boikot kompetisi FIFA. Keputusan itu sempat ditafsirkan sebagai kemunduran, tetapi justru menjadi pembuka manuver hukum yang lebih agresif.

Pengumuman mengejutkan ini dirilis di sela-sela undian Liga Champions di Monte Carlo, Selasa (27/8), momen yang seharusnya menjadi puncak agenda kalender sepak bola Eropa. UEFA menyatakan akan mengajukan laporan ke otoritas Swiss yang menduga Infantino melakukan mismanajemen kriminal dalam proyek FFE yang gagal total.

Valuasi Rp 294 Triliun Dinilai Terlalu Murah

Langkah pertama yang ditempuh UEFA adalah mengajukan permohonan kepada tiga pengadilan di Amerika Serikat untuk membuka dokumen terkait proyek FFE. Dalam dokumen setebal 56 halaman, UEFA menyebut valuasi FFE sebesar USD 20 miliar atau sekitar Rp 294 triliun sebagai angka yang "sangat rendah" dan tidak masuk akal.

Kekhawatiran UEFA beralasan. Pendapatan FIFA pada siklus empat tahun yang berakhir di Piala Dunia 2022 mencapai USD 15 miliar. Para analis pasar menilai angka USD 20 miliar tidak mencerminkan potensi pertumbuhan, terutama karena proposal tersebut tidak menyertakan klausul pembatasan ekspansi turnamen baru.

Keterlibatan Joshua Kushner dan Kekhawatiran Konflik Kepentingan

Proyek FFE ini dirancang untuk memberikan 21 persen pendapatan masa depan FIFA kepada Thrive Capital milik Joshua Kushner dengan nilai investasi USD 4,2 miliar. Kecurigaan UEFA semakin menguat setelah Kushner membeli saham LA Lakers senilai USD 12,5 miliar bersama mantan CEO Disney, Bob Iger.

UEFA juga menduga Infantino menyiapkan posisi kursi ketua FFE dengan bayaran fantastis puluhan juta poundsterling per tahun setelah mundur dari FIFA pada 2031. Dugaan ini memperkuat keyakinan UEFA bahwa Infantino memberikan kesepakatan khusus kepada Kushner.

Upaya Menggalang Dukungan Menghadapi Pemilihan Maret 2025

Di luar jalur hukum, UEFA berupaya menggalang dukungan anggota FIFA untuk melengserkan Infantino melalui pemilihan presiden Maret mendatang. Namun sejumlah federasi di luar Eropa masih ragu dan menunggu bukti kuat adanya tindak kriminal atau keuntungan pribadi yang diterima Infantino dari proyek FFE.

Sejarah FIFA menunjukkan betapa sulitnya menjatuhkan presiden petahana. Dalam 52 tahun terakhir, hanya ada tiga presiden tetap, dan yang terakhir kalah melalui pemungutan suara adalah Sir Stanley Rous dari Inggris pada 1974. João Havelange bertahan 24 tahun sebelum mundur karena skandal suap, sementara Sepp Blatter lengser setelah penyelidikan FBI pada 2015 yang menghasilkan puluhan vonis di Amerika Serikat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index