Kereta Api

KAI Mitigasi Risiko Jalur Utara Jawa Jelang Mudik Lebaran 2026

KAI Mitigasi Risiko Jalur Utara Jawa Jelang Mudik Lebaran 2026
KAI Mitigasi Risiko Jalur Utara Jawa Jelang Mudik Lebaran 2026

JAKARTA - Menghadapi musim mudik yang diprediksi bakal menjadi salah satu yang tersulit, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengambil langkah cepat untuk memastikan keselamatan perjalanan. Kalender libur tahun ini menyajikan tantangan yang tidak biasa bagi operator transportasi, di mana puncak arus mudik Lebaran 1447 H diperkirakan berhimpitan langsung dengan periode cuti bersama Hari Raya Nyepi. Menyadari kompleksitas tersebut, KAI melakukan gerak proaktif dengan menggelar inspeksi mendalam di lintas utara Pulau Jawa.

Pada Selasa , rombongan manajemen puncak KAI beserta para pemangku kepentingan (stakeholder) sektor perhubungan meluncurkan Kereta Api Inspeksi (Kais). Langkah ini merupakan bagian dari protokol preventif perusahaan untuk mematikan bahwa tidak ada aspek pelayanan, teknis, maupun keselamatan yang luput dari pengawasan sebelum gelombang mobilitas nasional dimulai.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa inspeksi lapangan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya pengendalian risiko secara menyeluruh. Mengingat tingginya kepadatan penumpang yang akan terjadi, KAI wajib memastikan kesiapan sarana, prasarana, hingga kesiagaan sumber daya manusia (SDM) di lapangan.

Sinergi Lintas Sektoral dan Fokus Keselamatan Operasional

Kegiatan inspeksi di jalur utara ini melibatkan pimpinan dari berbagai instansi terkait untuk menyatukan visi dalam menjaga keandalan perjalanan. Hadir dalam rombongan tersebut antara lain Direktur Pengelola Sarana dan Prasarana KAI Heru Kuswanto, Direktur Prasarana Ditjen Perkeretaapian (DJKA) Catur Wicaksono, perwakilan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Gusnaedi Rachmanas, serta Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta Ferdian Suryo Adhi Pramono.

Fokus utama pada hari pertama adalah melakukan pembinaan intensif kepada jajaran petugas di titik-titik krusial, seperti Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon, hingga wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang. Anne menyebutkan bahwa melalui Kais, para pimpinan dapat meninjau langsung kondisi jalur rel secara fisik sambil mendengarkan laporan kesiapan dari masing-masing kepala wilayah Daop yang dilalui.

“Angkutan Lebaran memiliki kompleksitas operasi yang tinggi. Melalui Kais, KAI memastikan kesiapan lintas, sarana, sumber daya manusia (SDM), serta pengamanan dilakukan secara menyeluruh berbasis kondisi lapangan,” jelas Anne dalam keterangan resminya.

Proyeksi Puncak Arus Mudik dan Tren Penjualan Tiket

Operasi Angkutan Lebaran 2026 sendiri direncanakan akan berlangsung selama 22 hari, terhitung sejak 11 Maret hingga 1 April 2026. Sementara itu, posko pengamanan dan pelayanan akan disiagakan secara khusus pada periode 14–29 Maret 2026. Berdasarkan kalender nasional, puncak arus mudik diproyeksikan jatuh pada 18 Maret 2026, yang bertepatan dengan momen cuti bersama Nyepi. Adapun arus balik diprediksi akan mencapai puncaknya pada 24 Maret 2026, berbarengan dengan berakhirnya masa libur lebaran.

Minat masyarakat untuk menggunakan moda kereta api tetap menunjukkan tren yang positif. Hingga Selasa pagi pukul 07.00 WIB, tercatat sebanyak 848.188 tiket kereta api reguler untuk periode lebaran telah ludes terjual. Data ini merupakan akumulasi pemesanan untuk keberangkatan tanggal 11 hingga 27 Maret 2026. Penerapan skema penjualan tiket H-45 terbukti memudahkan masyarakat dalam merencanakan perjalanan jauh-jauh hari.

Penguatan Pengamanan di Titik Rawan dan Daerah Pemantauan Khusus

Selain kesiapan teknis kereta, KAI memberikan perhatian ekstra pada aspek keamanan jalur. Perusahaan telah menetapkan 179 lokasi sebagai Daerah Pemantauan Khusus (Dapsus) yang memerlukan pengawasan lebih intensif karena karakteristik alam atau teknisnya. Selain itu, terdapat 217 titik yang dipetakan sebagai area rawan gangguan keamanan dan ketertiban di sepanjang jaringan rel.

Untuk mengamankan wilayah yang luas tersebut, KAI menyiagakan kekuatan personel yang masif. Sekitar 8.900 personel internal akan bekerja bahu-membahu dengan 1.000 personel tambahan dari unsur TNI dan Polri. Pengamanan di era digital ini juga didukung oleh pemanfaatan teknologi terkini, seperti CCTV analytic untuk memantau kerumunan dan objek mencurigakan, patroli rutin di sepanjang rel, hingga penggunaan pesawat nirawak (drone) untuk memantau titik-titik rawan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Anne Purba menutup keterangannya dengan menekankan bahwa hasil dari inspeksi Kais ini akan menjadi fondasi utama bagi KAI dalam melakukan evaluasi akhir dan penguatan strategi operasional. Prioritas tertinggi tetap pada keselamatan tanpa kompromi, demi menghadirkan pengalaman mudik yang nyaman dan berkesan bagi seluruh pelanggan setia kereta api.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index